Buka Puasa Bersama Ikatan Keluarga Besar Ranau


IKBR (Ikatan Keluarga Besar Ranau) di Palembang @ikbrpalembang , kembali membuat acara untuk menjalin kekeluargaan ditanah rantau. Sebagai ajang silaturrohim, mengenal satu sama lain, dan mempererat tali persaudaraan "Sekhasan Seandanan"

Acara insyaAllah akan dilaksanakan pada:
>Selasa, 6 Juni 2017
>Samping Menara Kampus Bina Husada, bedeng no. 31N warna abu-abu
>Waktu pukul 16.00 s/d 18.40
>Biaya 25ribu/orang

Rundown acara:
16.00 - 18.00: Ramah Tamah
18.00 - 18.30: Buka Bersama
18.30 - 18.40: Sholat Berjamaah
18.40 - ..........: Acara Bebas

Bagi yang tertarik ingin ikut, silahkan menghubungi saudara kami "Taqrim 082257138171" atau IG: @taqrimibadi

Acara akan terasa hampa tanpa kehadiran manak muakhi dari Ranau yang di Palembang.

Partai Politik yang Mendapat Hidayah


"Eh bajunya warna hijau. Partai P** ya?" Terlintas dibenak untuk menulis ini.

Bapak seorang politisi dari partai tersebut sejak saya duduk dibangku Sekolah Dasar hingga tahun 2014. Melalui partai itu juga Allah memberikan beberapa amanah kepadanya. Tapi sungguh disayangkan, terdengar kabar jika saat ini tampuk kekuasannya terbagi menjadi dua, menyebabkan gamang para kadernya. Kita tentu tau berita si-penista Al-Qur'an beserta partai koalisinya termasuk P**. Sebut saja si A, pemimpin dari partai tersebut justru pro mendukung si penista. Seolah tidak mau kalah si B juga ikutan mendukung. Kata bapak-ku, "si A melakukan demikian karena ingin mengeluarkan SK Menkumham sebagai final pengakuan bahwa benar si A yang berhak menjadi pemimpin tunggal dari partai". Hati nuraniku berkata lain, apakah pantas dianggap seorang muslim, menggadaikan akidah dan akhirat hanya demi dunia yang fana ini? Apakah pantas mereka membawa simbol islam dalam bendera sejak kejadian ini? Apa tidak ada cara lain? Selain melakukan hal demikian?

Bapak-ku kembali berkata, "politik itu kejam nak". Itulah yang terjadi saat ini. Mereka rela menjadi penjilat hanya untuk secuil gemerlapnya dunia. 
Fikiranku bekerja keras untuk mencerna perkataannya sambari menjerit, "mengapa? Apakah mereka merasa tidak punya Tuhan? Yang rejekinya sudah ditangguhkan setiap harinya? Apakah dengan demikian mereka menjadi lebih mulia?" Sungguh, merugilah bagi mereka yang menduakan Allah, menggadaikan akidah, agama dan akhlak hanya untuk mengejar harta dan jabatan yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya.

Kini si-Penista telah dipenjara. Apakah ini akhir dari sebuah cerita? Tentu tidak. Kemarin saya sempat membaca berita jika si A pemimpin P** melakukan pendekatan ke Gubernur yang baru. Tapi sayang beribu sayang, sekali hati telah terluka tentu tak akan kembali seperti sediakala. Itulah akhir cerita dari orang yang menuhankan dunia, orang yang mementingkan dunia, orang yang selalu mengejar dunia. Allah beri tuh dunia, tapi Allah jauhkan dari akhirat.

Puisi Kebimbangan Hati


Kebimbangan Hati
Oleh: Taqrim Ibadi


Jalan beriringan, untuk menggapai suatu tujuan.
Aku, Dia dan Mereka, bukanlah sebagai penentu kehidupan.
Lantas, mengapa hatimu bimbang.

Ku telusuri jalan setapak berharap perjumpaan diujung jalan.
Tapi yang kudapat, seonggok batu bak pangeran.
Lelah memang, bermain dengan ketidak pastian.
Mengajarkanku arti dari kedewasaan.

Lahir, menjadi balita, remaja, tumbuh dewasa, dan menua bersama hinggga ajal memisahkan.
Semua orang menginginkan.
Tapi sayang beribu sayang.
Semua akan menghilang jika waktunya telah datang.

Wahai zat yang Maha membolak balikan hati.
Berikanlah kemantapan hati, agar berakhir sudah penantian ini.

Puisi Rindu Akan Seorang


Rindu Akan Seorang
Oleh: Taqrim Ibadi


Lihat, itu bulan diatas awan
Dia tersenyum menawan tanpa beban
Mengingatkanku pada seorang yang tak kunjung datang
Sosok yang tak pernah ku jumpa
mengukir rindu tiada tara

wajahnya, bak fatamorgana di Gurun Sahara
tampak seperti ada, tapi sebenarnya tak ada

Mungkin,
hati ini terbelenggu dalam ikatan tanpa ruang
Terhubung meskipun ada penghalang

kamu tau?
tak terasa mataku mulai berkaca
setetes air mata cukup menggugah asa

tapi,
itulah adanya
aku disini belajar menjalani hari
dengan berjalan atau berlari

semoga Tuhan mempertemukan kita dikehidupan yang abadi
karena tanpamu, diriku tiada arti

Surat Untuk Februari


Palembang, 2 Februari 2017

Sayang…
Tidak terasa, 25 tahun sudah engkau menemani hari-hariku. Engkau selalu ada dikalaku senang ataupun gundah. Engkau tak pernah mengeluh disaatku bawel menyuruhmu dan engkau tak pernah bosan dikalaku membutuhkanmu. Tapi… mengapa akhir-akhir ini engkau terlihat kurang bersemangat? Apakah kau mulai bosan kepadaku? Atau mungkin engkau mulai lelah seiring bertambahnya usiamu?

Sayang…
Tidak kah kau ingat, dikalaku masih belia engkau adalah teman bermainku yang paling menyenangkan. Disaatku sakit engkau selalu berada disampingku, menghiburku, memotivasiku agar kuat melawan penyakit yang aku derita kala itu.
Kau masih ingatkan, waktu itu aku demam tinggi sudah 3 hari tak kunjung sembuh. Lantas kau menyuruhku untuk meminum jamu, iya minum jamu. Apa yang terjadi selanjutnya? Aku muntah. Tapi itu tak berlangsung lama, selang beberapa waktu kemudian demamku turun dan keesokan harinya aku sembuh.

Sayang…
Engkau adalah tempatku mencurahkan seluruh isi hati dan engkau pula tempat yang paling aku percayakan pada setiap rahasia yang ada.
Waktu terus berlalu, kita tak akan bisa mengulangi masa yang lalu. Akankah kita tetap berteman menyongsong masa tua bersama? Akankah kita selalu bersama hingga ajal memisahkan kita? Aku tau, perjalanan hidup masih panjang. Akan banyak rintangan yang akan kita lewati bersama. Cemo’oh orang-orang terhadap kita dan upaya mereka yang ingin menggagalkan mimpi dan cita-cita kita pastilah ada. 

Sayang…
Terimakasih karena sudah menemaniku selama ini.
Terimakasih sayang, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu dan akan menjagamu dengan segenap jiwa dan raga.
Untukmu, Taqrim Ibadi.

#SuratUntukFebruari2017 #EigerAdvanture #PecanduBuku